Jumat, 15 Maret 2013
Tragedi Mu'alaf
Hari ini, satu lagi keindahan Islma yang Allah tunjukkan
kepadaku. Di waktu indahnya Dhuha, orang beramai-ramai mengarah ke tempat umat
Islam bersujud. Masjid. Ya, Masjid Ulul Albab tepatnya.
Setelah jam pelajaran usai, aku sempat berniat
menggunakan waktu istirahatku untuk memenuhi kebutuhan jasmaniku, sarapan. Ya,
pagi tadi sebelum berangkat sekolah aku tak sempat makan. Jadilah perutku
berteriak-teriak kala pelajaran berlangsung. Maka dari itu, aku berniat
mendiamkan jeritan perutku. Namun, tingkah guru Fiqihku yang tergesa-gesa
mengusaikan pelajaran pertanda ada sesuatu yang sedang terjadi. Ada
mu'alaf—akan menjadi- di Masjid. Tadinya, aku tak begitu tertarik. Hanya
seorang yang baru masuk Islam yang kebetulan singgah di dekolahku. Mungkin
untuk mendaftarkan anaknya, atau memiliki urusan dengan bagian Kementerian
Agama Tangerang Selatan. Indahnya ukhuwah islamiah yang Allah SWT janjikan,
memang terbukti. Dua orang temanku yang bisa ku ajak ke Masjid untuk Shakat
Dhuha, kini berkebalikan mengajakku.
“Fir, mau ke Masjid?”
“Ga ah, ke kantin dulu.
Tunaikan yang wajib dulu lah. Shalat Dhuha kan Sunnah.”, candaku.
“yeh dasar, yaudah duluan ya.”
“eh bentar, keburu ga ya?”
“keburu lah, ayo!”
“yaudah deh yuk! untung aku
udah wudlu duluan”
Untunglah kedua ukhti yang baik itu mengingatkan ku untuk
pergi ke Masjid. Dan aku sangat bersyukur ada mereka yang mengingatkanku untuk
pergi ke Majsid terlebih dahulu.
Sesampainya di Masjid, segera ku ambil mukena lalu
melihat sekilah ke bagian dalam Masjid itu. Subhanallah, ada banyak orang di
dalamnya. Duduk melingkar bersama. Di bagian tengah lingkaran itu, ada seorang
lelaki mungkin dia mu'alafnya, fikirku. Puith, tinggi, duduk bersebelahan
dengan seorang wanita tak bertudung. Sepertinya ia warga negara asing, yang ingin
mengucapkan dua kalimat syahadat. Berpindah ke jalan yang benar. Islam.
Setelah aku melihat sekilah keadaan di dalam, segera
kulaksankan Shalat Dhuha di serambi Masjid. Saat aku sedang melaksanakan
Shalat, kejadian itu pun berlansung. Detik-detik pengucapan dua kalimat
syahadat. Entah mengapa, saat Ustad yang membantunya menjadi mu'alaf itu
mengucapkan basmallah, aku bergetar. Tepat ketika aku bersujud, mu'alaf itu
mengucapkan dua kalimat syahadat yang masih terbata-bata dibantu dengan Ustad
yang tidak bukan adalah salah satu guru agama di sekolahku.
Air mataku mengalir. Terucaplah, Asy-hadu-allah
illa-ha illa-allah wa asy-hadu-an-na muhamm-madu-rrasu-llullah. Terputus-putus,
pelafalannya juga masih berantakan. Tapi indah. Ya, sekuat tenaga pasti ia berusaha
untuk mengucapkan dua kalimat itu. Meskipun hanya dua kalimat. Pasti butuh
perjuangan untuknya memilih keputusan yang berat ini. Demi melaksanakan
tugasnya menjadi polisi di negara orang –Indonesia, bertemu dengan pujaan
hatinya dan meumutuskan untuk mengikuti din sang pujaan hatinya itu.
Sekali lagi, air mataku mengalir. Dalam sujud aku
bergetar. Ku ucap juga kalimat syahadat itu. Indah yaAllah. Mungkin selama ini
aku menyepelekan makna kaliamat itu. Mengucapkannya lebih dari lima kali dalam
sehari tanpa menjiwai kembali makna yang tersirat dalam dua kalimat itu.
Sedangkan dia, pasti sangat bermakna untuknya, apalagi ini pertama kalinya ia
mengucap kalimat itu.
Wahai dunia dan seisinya, saksikanlah! Satu lagi saudara
kita menemui jalannya. Jalan kebenaran yang telah Allah berikan. Dedaunan dan
pepohonan bersujud dan bertasbih kepadaNya. Memuji dan mengagung-agungkanNya.
Berbahagia menyambut kedatangan saudara seiman. Matahari bersinar lebih panas
lagi menghangatkan bumi dan seisinya. Terlalu bersemangat karena kebahagiaan
yang terkira.
Subhanallah, begitu bahagianya hamba mendapat akhi baru.
Begitu bahagianya calon istrinya itu dapat membawa calon imamnya menuju agama
yang diridhoi ini. Betapa malunya diri ini. Di umur yang sudah lebih dari
kepala dua, Muhammad Ali, begitu nama Islamnya, baru mengenal Islam. Sedangkan
aku? Sejak lahir. Islam telah melekat dalam lingkunganku, jadilah aku terlahir
sebagai bayi muslim. Tapi, Ali? Butuh perjuangan panjang menemukan hidayahnya,
berfikir keras untuk menetukan pilihan yang dia ambil. Menanggung segala resiko
dari teman-temannya, dari para keluarganya, atau bahkan dari tempat kerjanya.
Sedangkan aku? Sudah hidup tentram tanpa harus menemukan dan berfikir keras
lagi mencari hidayah hidupku. Masih tidak bersyukur pula.
Astagfirullahal'adzim, astagfirullahal'adzim,
astagfirullahal'adzim....
Hamba
sadar, hamba belum mengabdi dengan baik kepadamu. Setelah 15 tahun lamanya
menganut ajaran Islam. Namun, masih menganggap sederhana dua kalimat syahadat
itu. Padahal, orang-orang bersusah payah mengucapkannya untuk meraih ke
ridhoanMu.
Maka dari itu, marilah kita bangkit dan sadar. Telah
berapa lama kita mengaku sebagai umat muslim? Menganut ajaran Islam. Apa saja
yang telah kita lakukan? Jangan sampai kita kalah dengan mereka-mereka yang
baru saja mengenal Islam. Tunjukkan pada mereka, kalau kita lebih banyak
berpegetahuan tentang Islam dibandingkan mereka, sebagai bukti bahwa kita
menganut Islam lebih lama dibandingkan mereka. Hayya ya ukhti wa akhi!
Tunjukkan pada dunia, bahawa kita seorang muslim!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar