#NavbarMenu { background:#ccc; width:968px; height:32px; color:#FFF; font:bold 8px Arial, Tahoma, Verdana; clear:both; margin:0 auto; padding:0} #NavbarMenuleft { width:955px; float:left; margin:0; padding:0 } #nav li { list-style:none; float:left; margin:0; padding:0 } #nav li a,#nav li a:link,#nav li a:visited { color:#fff; display:block; text-transform:capitalize; font:normal 12px Georgia, Times New Roman; margin:0; padding:12px 11px 8px } #nav li a:hover,#nav li a:active { background:#ccc; color:#FFF; text-decoration:none; border-right:1px solid #296204; border-bottom:1px solid #296204; border-left:1px solid #296204; margin:0; padding:12px 9px 8px } #nav li li a,#nav li li a:link,#nav li li a:visited { background:#ccc; width:200px; color:#fff; text-transform:capitalize; float:none; border-bottom:1px solid #0d2601; border-left:1px solid #0d2601; border-right:1px solid #0d2601; font:normal 14px Georgia, Times New Roman; margin:0; padding:7px 10px } #nav li li a:hover,#nav li li a:active { background:#184303; color:#fff; padding:7px 10px } #nav li a.enclose,#nav li a.enclose:visited { border-top:1px solid #000 } #nav li ul { z-index:9999; position:absolute; left:-999em; height:auto; width:170px; margin:0; padding:0 } #nav li ul a { width:140px } #nav li ul ul { margin:-75px 0 0 171px } #nav li:hover ul ul,#nav li:hover ul ul ul,#nav li.sfhover ul ul,#nav li.sfhover ul ul ul { left:-999em } #nav li:hover ul,#nav li li:hover ul,#nav li li li:hover ul,#nav li.sfhover ul,#nav li li.sfhover ul,#nav li li li.sfhover ul { left:auto } #nav li:hover,#nav li.sfhover { position:static } #subnavbar { background:#004313; width:968px; height:24px; color:#FFF; margin:0; padding:0 } #subnav li a,#subnav li a:link,#subnav li a:visited { color:#f9fc01; display:block; font-size:11px; text-transform:capitalize; margin:0 5px 0 0; padding:3px 13px } #subnav li a:hover,#subnav li a:active { color:#DCD900; display:block; text-decoration:none; margin:0 5px 0 0; padding:3px 13px } #nav ul,#subnav ul,#subnav li { float:left; list-style:none; margin:0; padding:0 } *,#nav,#subnav { margin:0; padding:0 }
Blogger Templates

Jumat, 15 Maret 2013

Tragedi Mu'alaf


            

            Hari ini, satu lagi keindahan Islma yang Allah tunjukkan kepadaku. Di waktu indahnya Dhuha, orang beramai-ramai mengarah ke tempat umat Islam bersujud. Masjid. Ya, Masjid Ulul Albab tepatnya.

            Setelah jam pelajaran usai, aku sempat berniat menggunakan waktu istirahatku untuk memenuhi kebutuhan jasmaniku, sarapan. Ya, pagi tadi sebelum berangkat sekolah aku tak sempat makan. Jadilah perutku berteriak-teriak kala pelajaran berlangsung. Maka dari itu, aku berniat mendiamkan jeritan perutku. Namun, tingkah guru Fiqihku yang tergesa-gesa mengusaikan pelajaran pertanda ada sesuatu yang sedang terjadi. Ada mu'alaf—akan menjadi- di Masjid. Tadinya, aku tak begitu tertarik. Hanya seorang yang baru masuk Islam yang kebetulan singgah di dekolahku. Mungkin untuk mendaftarkan anaknya, atau memiliki urusan dengan bagian Kementerian Agama Tangerang Selatan. Indahnya ukhuwah islamiah yang Allah SWT janjikan, memang terbukti. Dua orang temanku yang bisa ku ajak ke Masjid untuk Shakat Dhuha, kini berkebalikan mengajakku.
“Fir, mau ke Masjid?”
“Ga ah, ke kantin dulu. Tunaikan yang wajib dulu lah. Shalat Dhuha kan Sunnah.”, candaku.
“yeh dasar, yaudah duluan ya.”
“eh bentar, keburu ga ya?”
“keburu lah, ayo!”
“yaudah deh yuk! untung aku udah wudlu duluan”
            Untunglah kedua ukhti yang baik itu mengingatkan ku untuk pergi ke Masjid. Dan aku sangat bersyukur ada mereka yang mengingatkanku untuk pergi ke Majsid terlebih dahulu.
            Sesampainya di Masjid, segera ku ambil mukena lalu melihat sekilah ke bagian dalam Masjid itu. Subhanallah, ada banyak orang di dalamnya. Duduk melingkar bersama. Di bagian tengah lingkaran itu, ada seorang lelaki mungkin dia mu'alafnya, fikirku. Puith, tinggi, duduk bersebelahan dengan seorang wanita tak bertudung. Sepertinya ia warga negara asing, yang ingin mengucapkan dua kalimat syahadat. Berpindah ke jalan yang benar. Islam.
            Setelah aku melihat sekilah keadaan di dalam, segera kulaksankan Shalat Dhuha di serambi Masjid. Saat aku sedang melaksanakan Shalat, kejadian itu pun berlansung. Detik-detik pengucapan dua kalimat syahadat. Entah mengapa, saat Ustad yang membantunya menjadi mu'alaf itu mengucapkan basmallah, aku bergetar. Tepat ketika aku bersujud, mu'alaf itu mengucapkan dua kalimat syahadat yang masih terbata-bata dibantu dengan Ustad yang tidak bukan adalah salah satu guru agama di sekolahku.
            Air mataku mengalir. Terucaplah, Asy-hadu-allah illa-ha illa-allah wa asy-hadu-an-na muhamm-madu-rrasu-llullah. Terputus-putus, pelafalannya juga masih berantakan. Tapi indah. Ya, sekuat tenaga pasti ia berusaha untuk mengucapkan dua kalimat itu. Meskipun hanya dua kalimat. Pasti butuh perjuangan untuknya memilih keputusan yang berat ini. Demi melaksanakan tugasnya menjadi polisi di negara orang –Indonesia, bertemu dengan pujaan hatinya dan meumutuskan untuk mengikuti din sang pujaan hatinya itu.

            Sekali lagi, air mataku mengalir. Dalam sujud aku bergetar. Ku ucap juga kalimat syahadat itu. Indah yaAllah. Mungkin selama ini aku menyepelekan makna kaliamat itu. Mengucapkannya lebih dari lima kali dalam sehari tanpa menjiwai kembali makna yang tersirat dalam dua kalimat itu. Sedangkan dia, pasti sangat bermakna untuknya, apalagi ini pertama kalinya ia mengucap kalimat itu.
            Wahai dunia dan seisinya, saksikanlah! Satu lagi saudara kita menemui jalannya. Jalan kebenaran yang telah Allah berikan. Dedaunan dan pepohonan bersujud dan bertasbih kepadaNya. Memuji dan mengagung-agungkanNya. Berbahagia menyambut kedatangan saudara seiman. Matahari bersinar lebih panas lagi menghangatkan bumi dan seisinya. Terlalu bersemangat karena kebahagiaan yang terkira.
            Subhanallah, begitu bahagianya hamba mendapat akhi baru. Begitu bahagianya calon istrinya itu dapat membawa calon imamnya menuju agama yang diridhoi ini. Betapa malunya diri ini. Di umur yang sudah lebih dari kepala dua, Muhammad Ali, begitu nama Islamnya, baru mengenal Islam. Sedangkan aku? Sejak lahir. Islam telah melekat dalam lingkunganku, jadilah aku terlahir sebagai bayi muslim. Tapi, Ali? Butuh perjuangan panjang menemukan hidayahnya, berfikir keras untuk menetukan pilihan yang dia ambil. Menanggung segala resiko dari teman-temannya, dari para keluarganya, atau bahkan dari tempat kerjanya. Sedangkan aku? Sudah hidup tentram tanpa harus menemukan dan berfikir keras lagi mencari hidayah hidupku. Masih tidak bersyukur pula.

            Astagfirullahal'adzim, astagfirullahal'adzim, astagfirullahal'adzim....
            Hamba sadar, hamba belum mengabdi dengan baik kepadamu. Setelah 15 tahun lamanya menganut ajaran Islam. Namun, masih menganggap sederhana dua kalimat syahadat itu. Padahal, orang-orang bersusah payah mengucapkannya untuk meraih ke ridhoanMu.
            Maka dari itu, marilah kita bangkit dan sadar. Telah berapa lama kita mengaku sebagai umat muslim? Menganut ajaran Islam. Apa saja yang telah kita lakukan? Jangan sampai kita kalah dengan mereka-mereka yang baru saja mengenal Islam. Tunjukkan pada mereka, kalau kita lebih banyak berpegetahuan tentang Islam dibandingkan mereka, sebagai bukti bahwa kita menganut Islam lebih lama dibandingkan mereka. Hayya ya ukhti wa akhi! Tunjukkan pada dunia, bahawa kita seorang muslim!


Selasa, 05 Maret 2013




ya, dunia ini memang terlalu adil untuk mengajari para manusianya mengerti maksud Tuhannya. layakya hari ini. aku diajari bagaimana menghargai sekecil apapun kebahagiaan yang telah dinantikan semenjak lama, mungkin. bahagia itu pecah. di hari yang tepat.
yang ku dapat, kegagalan atau pun keberhasilan tak kan terasa tanpa rasa kebersamaan yang telah dibangun sebelumnya. merasakan semuanya sendiri? apa gunanya? apa rasanya? hambar.
dan hari ini, aku diberi kesempatan oleh Tuhan Yang Maha Pengasih untuk merasakan kebahgiaan atas kebersamaan itu. ketika hati, tersugesti untuk merasakan kebersamaan itu. aku merasa kalau kebersamaan itu memang ada, memang tercipta, atas dasar rasa dan membuat kita bahagia.
dari kebersamaan itu pula, semangat datang membara. tetap bertahan di atas pilihan-pilihan hidup yang telah kita ambil. bangkit di tengah kegagalan dan sadar atas kesuksesan.
namun sayangnya, kebersamaan tak seperti membalikkan telapak tangan. perlu perjuangan untuk menggapainya. tapi hasilnya, subhanallah. manis.
dengan kebersamaan pula, kita dapat merasakan indahnya ukhuwah islamiyah yang memang saya rasa hanya ada di dalam Islam. bagaimana umat Rasulullah saling tolong menolong dan membantu sesama, kebersamaan itu pula yang membuat Islam bangkit di masa itu. kala dulu. waktu manusia belum sibuk dengan urusannya masing-masing, kala manusia belum mengenal apa itu individualisme, bagaimana hidup tanpa orang lain. asik dengan dunianya sendiri. mungkin penyebab-penyebab seperti itu lah yang membuat kebersamaan sulit di raih.